Pages

Selasa, 19 Oktober 2021

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA KEOLAHRAGAAN, MANAJEMEN FASILITAS OLAHRAGA DAN MANAJEMEN PEMASARAN OLAHRAGA.




RUANG LINGKUP MANAJEMEN OLAHRAGA

A. DEFINISI MANAJEMEN OLAHRAGA

    
    Manajemen didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain (Sondang P. Siagian). Menurut T. Hani Handoko (2003: 8) Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya, agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Manajemen itu, tidak lain adalah proses kelangsungan fungsi yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan (leading) dan evaluasi (Husdarta, 2011: 37).
    
    Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien (Eka Prihatin, 2011: 2). Selanjutnya, Husaini Usman (2012: 6) manajemen adalah serangkaian kegiatan yang diarahkan langsung untuk penggunaan sumber daya organisasi secara efektif dan efisiensi dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
    
    Menurut Sugiyono (2014: 14) memberikan definisi manajemen adalah sebagai berikut management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources. Maksudnya, manajemen adalah suatu proses yang khas, terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengontrolan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan sumber daya manusia dan sumber daya lain.
    
    Manajemen olahraga pada dasarnya merupakan perpaduan antara ilmu manajemen dengan ilmu olahraga, sehingga seseorang yang telah lulus dari Sekolah Tinggi dan Ilmu Administrasi atau dari Lembaga Ilmu Manajemen Bisnis tidak otomatis menguasai atau dapat menerapkan manajemen olahraga. Jadi, seseorang apabila ingin menerapkan manajemen olahraga dengan baik dan benar harus menguasai kedua bidang disiplin ilmu manajemen dan ilmu olahraga (Harsuki, 2012: 2).
    
    Menurut Janet B. Park (2011: 7) Sport management is the study and practice of all people, activities, businesses, or organizations invloved in producing, facilitating, promoting, or organizing any sport related business or product. Manajemen olahraga adalah studi dan praktek dari semua orang, kegiatan, bisnis, atau organisasi dalam memproduksi, mem- fasilitasi, mempromosikan, atau mengorganisir bisnis olahraga ter- kait atau produk. Manajer adalah salah satu orang yang utama dalam organisasi olahraga karena mampu merencanakan, mengambil keputusan, melakukan koordinasi serta memotivasi produktivitas karyawan dan hubungan antar pengurus, memahami dan mengerti fungsi- fungsi manajemen. Menurut Harsuki (2012: 2) manajemen olahraga adalah disiplin ilmu manajemen yang telah bertautan dengan disiplin ilmu olahraga membentuk interdisiplin baru.

B. TUJUAN MANAJEMEN
    
    Dalam segala bidang memerlukan suatu manajemen yang baik untuk efektivitas dan efisiensi di suatu organisasi. Menurut Daft (2010: 335) menyatakan bahwa manajemen yang baik diperlukan untuk membantu organisasi memenuhi organisasi ke masa depan. Seberapa baik sebuah organisasi seperti sekolah, perguruan tinggi, klub kebugaran, pembinaan dalam mencapai tujuan tergantung pada manajemen yang dikelola. Oleh karena itu, penting untuk memahami manajemen untuk mencapai tujuan sehingga manajemen dibutuhkan dan diperlukan oleh semua bentuk organisasi.
    
    Manajemen memberikan pemahaman dan apresiasi terhadap prinsip-prinsip dasar dari suatu bidang ilmu. Metode, teknik, strategi, sebuah prosedur yang digunakan oleh manajer dapat dievaluasi lebih akurat dan objektif oleh anggota staf jika ingin memiliki sebuah pemahaman manajerial. Selain itu, manajemen yang baik akan lebih dihargai dan pelaksanaan tidak akurat lebih mudah dikenali. Mempelajari manajemen akan membantu seseorang memutuskan apakah akan memilih bidang yang diinginkan. Peningkatan pemahaman dan apresiasi dari proses manajemen yang akan mem- bantu individu mengevaluasi dan potensi di lapangan. Sebagian pelatih akan melakukan beberapa jenis pekerjaan tentang manajemen (Krotee and Bucher, 2007: 6). Memahami manajemen akan mem- berikan kontribusi yang lebih baik untuk penampilan. Manajemen tidak terbatas pada satu kelompok individu. Pemahaman manajemen akan membantu dalam melaksanakan tugas secara efektif dan efisien, tidak hanya di perusahaan bisnis tetapi semua bentuk organi­ sasi seperti rumah sakit, sekolah, klub-klub olahraga, memerlukan manajemen untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Tujuan dan sasaran dalam manajemen diciptakan dan ide-ide untuk di implementasikan dikembangkan dengan suatu perencanaan dan tindakan yang kooperatif. Tujuan mendasar dari manajemen adalah untuk melanjutkan apa yang telah terbukti berhasil daripada meng-hilangkan yang lama dan mencoba jalan baru dan belum pernah dicoba (Krotee and Bucher, 2007: 6).

C. FUNGSI MANAJEMEN
   
    In sports managers can act both as leaders of sports organizations, achieving top management and as head of various departments or teams. They are included in the second echelon of management (middle management), for which the management is more important (Mihaela, Veronica and Dana, 2014: 270). Manajer dalam olahraga dapat bertindak baik sebagai pemimpin organisasi olahraga, mencapai manajemen puncak dan sebagai pemimpin dalam suatu tim. Managers are the part of personnel structure included in some function of management (Acimovic, dkk, 2013: 251). Manajer adalah bagian dari struktur personalia yang melaksana- kan kegiatan-kegiatan tertentu yaitu fungsi-fungsi manajemen.
    
    Manajer adalah bagian struktur personalia dalam suatu struktur organisasi olahraga. Manajer melaksanakan kegiatan yaitu fungsi- fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu induk organisasi olahraga. Menurut Sentot Imam (2008: 7-8) ada empat fungsi-fungsi manajemen terdiri atas planning, organizing, actuating, dan controlling. Fungsi manajemen akan dijelaskan yaitu sebagai berikut:

1. Merencanakan (Planning)
    
    Merencanakan (planning), mengandung arti bahwa manajer lebih dahulu memikirkan dengan saksama sasaran dan tindakan berdasarkan pada beberapa metode, rencana, atau logika dan bukan berdasarkan perasaan. Rencana mampu mengarahkan tujuan organisasi dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapainya. Disamping itu rencana merupakan pedoman untuk (a) organisasi memperoleh dan menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai organisasi, (b) anggota organisasi melaksanakan kegiatan yang konsisten dengan tujuan dan prosedur yang sudah ditetapkan, dan (c) memantau dan mengukur kemajuan dalam mencapai tujuan, sehingga tindakan korektif dapat diambil bila kemajuan tidak memuaskan.
 
    Kegiatan perencanaan menjadi tiga tahapan, yaitu: (1) perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan tersebut, dan (3) identifikasi dan peng­ arahan sumber yang jumlahnya terbatas. Tujuannya adalah ke- inginan yang akan diwujudkan. Menetapkan sasaran tujuan dimulai dengan apa yang diinginkan, menentukan prioritas dan deskripsi secara jelas tujuannya. Tujuan dapat menyangkut maksud organisasi pada peranannya yang utama. Perencanaan memerlukan pendekatan rasional ke arah tujuan yang ditetapkan, sehingga dalam perencanaan dibutuhkan data dan informasi yang cukup sehingga dalam menyusun perencanaan terlepas kaitannya dengan permasalahan yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Anggaran merupakan hal yang penting dalam mendukung kegiatan organisasi. Rencana penerimaan dan penggunaan sumber-sumber keuangan diperlukan untuk melaksanakan kegiatan. Perencanaan keluar masuknya anggaran merupakan kegiatan untuk menghindari pemborosan dilihat dari sisi keuangan. Anggaran dapat juga sebagai sarana peng- awasan yaitu dengan membandingkan pengeluaran yang direncanakan dan pengeluaran sebenarnya (Nanang Fatah, 2009: 49).
    
    Kriteria perencanaan yang baik harus dapat menjawab kapan rencana dilakukan, sehingga perincian waktu seperti target tidak terlepas dari pelaksanaan. Perhitungan waktu harus terjadwal untuk memungkinkan tercapainya tujuan, jadwal penyediaan bahan harus singkron dengan anggaran yang ada. Perencanaan harus disesuaikan dengan pelaksanaannya sehingga perlu penjadwalan agar tidak terjadi benturan pada waktu kegiatan dilaksanakan.
 
2. Mengorganisasi (Organizing)
    
    Mengorganisasi atau (organizing) adalah proses mengatur dan mengalokasikan pekerjaan, wewenang, dan sumber daya ke jumlah anggota organisasi, sehingga dapat mencapai sasaran organisasi. Sasaran yang berbeda memerlukan struktur yang berbeda pula sehingga para manajer harus menyesuaikan struktur organisasian dengan sasaran dan sumber dayanya, proses yang disebut desain organisasi atau perancangan organisasi.
    
    Ditinjau dari segi-segi efektivitas organisasi terjadi karena dipengaruhi oleh aspek struktur organisasi yang memiliki per- samaan dan hubungan dalam pencapaian tujuan. Proses pencapaian tujuan yang bagus berarti adanya konsistensi dan fokus dalam upaya pemimpin yang mengintegrasikan visi dan misi kepada pegawai, dengan timbal balik pegawai berkinerja baik secara konsisten dan fokus sesuai sistem yang telah dirancang bagi kelangsungan hidup organisasi (Fianda, Djamhur, dan Muhammad Faisal, 2014: 2).

3. Memimpin (Actuating, Leading) 
 
    Memimpin (actuating, leading) itu meliputi mengarahkan, memengaruhi, dan memotivasi karyawan untuk melaksanakan tugas yang penting. Para manajer memimpin untuk membujuk orang lain supaya mau bergabung dalam rangka mengejar masa depan yang muncul dari langkah planning dan organizing. Fungsi leading, merupakan fungsi paling kritis (paling menentukan keberhasilan) dari keseluruhan fungsi manajemen.
 
    Penggerakan (actuating) merupakan keseluruhan usaha, cara, teknik, dan metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif, efisien dan ekonomis. Agar penggerakkan dapat berjalan dengan baik dan lancar maka diperlukan beberapa hal yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan tindakan/pekerjaan, yaitu diperlu- kan adanya kepemimpinan, komunikasi, motivasi, dan fasilitas. Seorang pengarah acara harus mampu memimpin stafnya saat produksi berlangsung supaya output penyiaran sesuai dengan target (Ruth, 2013).

4. Mengendalikan (Controlling)
    
    Mengendalikan (controlling) adalah proses kegiatan untuk memastikan bahwa aktivitas yang terjadi sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses ini melibatkan berbagai elemen: (a) menetapkan standar prestasi kerja, (b) mengukur prestasi kerja saat ini, (c) membandingkan prestasi kerja dengan standarnya, dan (d) mengambil tindakan korektif bila ada penyimpangan.
    
    Dalam manajemen, pengawasan (controlling) merupakan suatu kegiatan untuk mencocokkan apakah kegiatan operasional (actuating) di lapangan sesuai dengan rencana (planning) yang telah ditetapkan dalam mencapai tujuan (goal) dari organisasi. Dengan demikian yang menjadi obyek dari kegiatan pengawasan adalah mengenai kesalahan, penyimpangan, cacat dan hal-hal yang bersifat negatif seperti adanya kecurangan, pelanggaran dan korupsi (Sentot Harman, 2000: 46). Selain itu, ada pun fungsi-fungsi manajemen yang lain dikemukakan oleh Krotee and Bucher (2007: 12) yaitu (1) pengambilan keputusan, (2) pemecahan masalah, (3) penganggaran, (4) mengevaluasi/penilaian, (5) berkomunikasi, (6) pelaporan, (7) mendelegasikan, (7) berinovasi, (8) koordinasi, (9) mewakili, (9) membuat sistem yang baru atau strategi mengenai proses manajemen, dan (10) memotivasi.
    
    Menurut Eny Trimeiningrum (Angelina Vita, dkk, 2013: 6) fungsi-fungsi manajemen yaitu (1) perencanaan yaitu menetukan sasaran, menetapkan strategi, dan mengembangkan rencana kerja, (2) pengorganisasian yaitu menentukan tugas yang harus diselesaikan dan orang yang menyelesaikan tugas, (3) kepemimpinan yaitu me- mimpin, memengaruhi para karyawan agar dapat melakukan tugas, dan (4) pengendalian yaitu membandingkan kinerja dengan rencana serta mengambil tindakan korektif.
    
    Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi- fungsi manajemen meliputi (1) perencanaan (planning) yaitu harus disesuaikan dengan waktu pelaksanaan suatu rencana dan kegiatan sehingga membutuhkan penjadwalan yang diatur secara sistematis agar tidak terjadi benturan pada waktu kegiatan dilaksanakan, (2) pengorganisasian (organizing) yaitu efektivitas organisasi dipengaruhi oleh aspek struktur organisasi yang memiliki persamaan dan hubungan dalam pencapaian tujuan. Proses pencapaian tujuan yang baik karena adanya konsistensi dan fokus dalam upaya pemimpin yang mengintegrasikan visi dan misi kepada anggota, (3) peng-arahan (actuating) yaitu keseluruhan usaha untuk mendorong anggota organisasi agar mau bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi yang efektif, efisien dan ekonomis, (4) pengawasan (controlling) dalam suatu manajemen untuk memastikan kegiatan yang direncanakan dan dibuat telah diterapkan sesuai dengan target. Tujuan pengawasan adalah untuk mengoreksi kegiatan yang telah dilakukan.

D. FUNGSI MANAJEMEN OLAHRAGA
    
    Fungsi manajemen merupakan rangkaian berbagai kegiatan yang telah ditetapkan dan memiliki hubungan dan saling ketergantungan satu sama lain dan dilaksanakan oleh masing-masing orang, lembaga atau bagian-bagiannya yang diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut. Fungsi manajemen dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang pertama fungsi organik di mana fungsi ini harus ada dan jika tidak dijalankan maka menyebabkan ambruknya manajemen. Kedua, fungsi anorganik yaitu fungsi penunjang di mana jika tersedia, maka manajemen akan lebih nyaman dan efektif. Misalnya fasilitas penunjang untuk berolahraga, hal ini menjadikan nyaman untuk berolahraga (Harsuki 2012: 77).
    
    Perencanaan melibatkan mengembangkan garis besar hal-hal yang harus dicapai dan metode untuk mencapai tujuan. Kegiatan ini mencoba untuk meramalkan masa depan dan tindakan pengarahan organisasi. Pengorganisasian menetapkan struktur formal kekuasaan melalui subdivisi busur yang bekerja diatur, didefinisikan, dan ter­ koordinasi melaksanakan rencana. Stafing melibatkan fungsi personil seluruh memilih, pelatihan, mengembangkan staf dan memelihara kondisi kerja yang menguntungkan. Mengarahkan, terkait erat dengan terkemuka, termasuk tugas terus-menerus membuat keputusan, komunikasi dan melaksanakan keputusan, dan mengevaluasi bawahan dengan benar. Koordinasi melibatkan semua kegiatan dan upaya yang diperlukan untuk mengikat bersama-sama organisasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pelaporan mem- verifikasi kemajuan melalui catatan, penelitian, dan inspeksi; me­ maksimalkan bahwa sesuatu terjadi sesuai dengan rencana; meng­ ambil tindakan koreksi bila diperlukan, dan memberikan informasi kepada siapa kepala eksekutif bertanggung jawab. Penggangaran meliputi semua kegiatan penggangaran, termasuk perencanaan fiskal, akuntansi, dan pengendalian.
    
    Berdasarkan beberapa definisi manajemen yang telah diuraikan di atas, agar lebih jelas tentang proses manajemen, maka akan di- paparkan tentang fungsi pokok manajemen, yaitu: perencanaan (planning), penggorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling).
 
1. Perencanaan (Planning)
a) Pengertian Perencanaan
    
    Perencanaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang berkaitan dengan penentuan rencana yang akan membantu tercapainya sasaran yang telah ditentukan. Perencanaan merupakan awal dalam melakukan proses manajemen. Perencanaan yang baik akan memperoleh hasil yang lebih optimal. Menurut Sondang P. Siagian (2007: 36) perencanaan adalah usaha sadar dan pengambilan keputusan yang telah diperhitungkan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa depan dalam dan oleh suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah di tentukan.
    
    Perencanaan adalah inti disiplin persiapan yang memberi kebebasan kepada semua orang dalam sebuah organisasi untuk mengerjakan apa yang perlu, menciptakan, dan mengadaptasi perubahan yang cerdas. Perencanaan yang baik hendaknya me- merhatikan sifat-sifat kondisi yang akan datang, sehingga keputusan dan tindakan dapat diambil dan dilaksanakan dengan efektif (Harsuki 2012: 90). Perencanaan merupakan kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan di masa datang. Nanang Fatah (2009: 49) membagi kegiatan perencanaan menjadi tiga tahapan, yaitu: (1) perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan tersebut, dan (3) identifikasi dan pengarahan sumber yang jumlahnya terbatas. Tujuannya adalah keinginan yang akan diwujudkan. Menetapkan sasaran tujuan dimulai dengan apa yang diinginkan, menentukan prioritas dan deskripsi secara jelas tujuannya. Tujuan dapat menyangkut maksud organisasi pada peranannya yang utama.
    
    Perencanaan memerlukan pendekatan rasional kearah tujuan yang ditetapkan, sehingga dalam perencanaan dibutuhkan data dan informasi yang cukup sehingga dalam menyusun perencanaan terlepas kaitannya dengan permasalahan yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Anggaran merupakan hal yang penting dalam mendukung kegiatan organisasi. Rencana penerimaan dan penggunaan sumber-sumber keuangan diperlukan untuk melaksanakan kegiatan. Perencanaan keluar masuknya anggaran merupakan kegiatan untuk meng- hindari pemborosan dilihat dari sisi keuangan. Anggaran dapat  juga sebagai sarana pengawasan yaitu dengan membandingkan pengeluaran yang direncanakan dan pengeluaran sebenarnya.
    
    Kriteria perencanaan yang baik harus dapat menjawab kapan rencana dilakukan, sehingga perincian waktu seperti target tidak terlepas dari pelaksanaan. Perhitungan waktu harus terjadwal untuk memungkinkan tercapainya tujuan, jadwal penyediaan bahan harus singkron dengan anggaran yang ada. Perencanaan harus disingkronkan dengan pelaksanaannya sehingga perlu penjadwalan agar tidak terjadi benturan pada waktu kegiatan dilaksanakan.

b) Tahap Dasar Perencanaan
    
    Dalam proses penyusunan perencanaan diperlukan tahapan. Hani Handoko (2000: 79) mengemukakan empat tahap dasar perencanaan sebagai berikut:
  • Tahap 1 yaitu menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi. Tanpa rumusan yang jelas, organisasi akan menggunakan sumber daya-sumber dayanya secara tidak efektif.
  • Tahap 2 yaitu merumuskan keadaan saat ini. Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan dating, hanya setelah keadaan perusahaan saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana kegiatan lebih lanjut. Tahap ini memerlukan informasi terutama ke- uangan dan data statistik yang didapatkan melalui komuni- kasi dalam organisasi.
  • Tahap 3 yaitu mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan, segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur ke­ mampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, walaupun sulit dilakukan, antisipasi keadaan, masalah dan kesempatan serta ancaman yang mungkin ter- jadi waktu mendatang adalah bagian esensi dari proses perencanaan.
  • Tahap 4 yaitu mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Tahap akhir dalam proses perencanaan meliputi pengembanggan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian-penilaian alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) di antara alternatif yang ada.
    Menurut Hani Handoko (2000: 80) ada dua alasan perlunya perencanaan. Perencanaan dilakukan untuk mencapai. (1) “protective benefic” yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan, dan (2) “positive benefic” dalam bentuk meningkatan sukses pencapaian tujuan organisasi. Perencanaan adalah melihat bahwa program-program dan penemuan-penemuan sekarang dapat diperguna- kan untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan-tujuan di waktu yang akan datang, yaitu meningkatkan pembuatan keputusan yang lebih baik.

c) Manfaat Perencanaan
    
    Perencanaan mempunyai banyak manfaat yaitu: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan, (b) membantu dalam kristalisasi penyesuaian pada masalah-masalah utama, (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas, (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, (e) memberikan cara perintah untuk beroperasi, (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi dalam berbagai bagian organisasi, (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami, (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, (i) menghemat waktu, usaha dan biaya (Hani Handoko 2000: 81).
    
    Perencanaan bukan hanya memiliki manfaat akan tetapi memiliki kelemahan juga, antara lain: (a) pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi nyata, (b) perencanaan cenderung menunda kegiatan, (c) perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi, (d) kadang-kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penyesuaian situasi individual dan penanganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi, dan (e) ada rencana-rencana yang diikuti cara-cara yang tidak konsisten (Hani Handoko 2000: 81).

d) Hubungan Perencanaan Dengan Fungsi Manajemen Lainnya
    
    Hubungan perencanaan dengan pengorganisasian merupakan proses pengaturan kerja bersama sumber daya-sumber daya keuangan, fisik dan manusia dalam organisasi. Perencanaan menunjukkan cara dan perkiraan bagaimana menggunakan sumber daya tersebut untuk mencapai efektifitas paling tinggi, sebagai contoh penyusunan personalia organisasi tidak akan tersusun secara efektif tanpa perencanaan personalia. Fungsi memimpin selalu berkaitan erat dengan perencanaan.
    
    Perencanaan menentukan kombinasi yang paling baik dari faktor-faktor, kekuatan-kekuatan, sumber daya-sumber daya dan hubungan yang diperlukan untuk mengarahkan dan memotivasi karyawan. Fungsi memimpin meliputi penerapan unsur-unsur tersebut menjadi pengaruh untuk manajer hal ini menunjukkan apakah rencana yang telah disusun realistik atau tidak, bila rencana tidak realistik atau praktek manajemen buruk akan menyebabkan rencana tidak dikerjakan seperti yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, evaluasi bertindak sebagai kriteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana. Evaluasi juga menjadi bagian dari rencana baru.
    
    Berdasarkan uraian di atas dapat memberikan gambaran bahwa pada dasarnya perencanaan merupakan kegiatan untuk merumuskan tujuan yang akan dicapai. Demikian langkah-langkah teknis dari perencanaan yang digunakan dalam merumuskan suatu rencana yang baik, di samping tergantung ketepatan penyusunannya, berhasil tidaknya pelaksanaan rencana itu, juga akan ditentukan oleh fungsi-fungsi manajemen yang lain yaitu penggorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.

2. Pengorganisasian
a) Pengertian Penggorganisasian

    
    Penggorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang berkaitan dengan struktur organisasi dan proses pengorganisasian. Menurut Nanang Fatah (2009: 71) pengorganisasian adalah proses pembagian kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya serta, mengoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi. Menurut Hani Handoko (2000: 168) penggorganisasian merupakan proses untuk merancang struktural formal, mengelompokan dan mengatur serta membagi tugas-tugas diantara para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai dengan efisien.
    
    Menurut Harsuki (2012: 103) penggorganisasian merupakan langkah pertama kearah pelaksanaan rencana yang telah tersusun sebelumnya. Penggorganisasian yang baik penting untuk dilakukan untuk mencapai suatu kesuksesan dalam organisasi. Penggorganisasian merupakan keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, serta wewenang dan tanggung jawab sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai satu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.

b) Langkah Penggorganisasian
    
    Proses penggorganisasian diperlukan langkah-langkah dalam menyusunnya. Menurut Hani Handoko (2000: 168) mengemukakan langkah-langkah penggorganisasian yaitu:
  1. Perincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi.
  2. Pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan- kegiatan yang secara logika dapat dilaksanakan oleh satu orang. Pembagian kerja tidak terlalu berat sehingga tidak dapat diselesaikan, atau terlalu ringan sehingga ada waktu mengganggur, tidak efisien dan terjadi biaya yang tidak perlu.
  3. Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. Mekanisme pengoordinasian ini akan membuat para anggota organisasi menjaga perhatiannya pada tujuan organisasi dan mengurangi ketidakefisienan konflik­konflik yang merusak.
    Organisasi yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (a) terdapat tujuan yang jelas, (b) tujuan organisasi harus dipahami oleh setiap orang di dalam organisasi, (c) tujuan organisasi diterima oleh setiap orang dalam organisasi, (d) adanya kesatuan arah, (e) adanya kesatuan perintah, (f) adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang, (g) adanya pembagian tugas, (h) struktur organisasi harus disusun sesederhana mungkin. (i) pola dasar organisasi harus relatif permanen, (j) adanya jaminan jabatan, (k) balas jasa yang di- berikan kepada setiap orang harus setimpal dengan jasa yang diberikan, dan (l) penempatan orang harus sesuai dengan keahliannya (Harsuki 2012: 119-120).
 
3. Pengarahan
    
    Menurut G.R. Terry (2010 : 181) pengarahan dalam istilah asing directing adalah mengintegrasikan usaha-usaha anggota suatu kelompok sedemikian, sehingga dengan selesainya tugas-tugas yang diserahkan kepada individual maupun kelompok. Menurut Sukanto Reksohadiprodjo (2000: 49) pengarahan adalah merupakan usaha yang berhubungan dengan segala sesuatu agar semuanya dapat dilakukan, dalam memberikan pengarahan, agar dihasilkan sesuatu yang diharapkan, perlu dikeluarkan, perintah­perintah secara baik; perintah-perintah tersebut harus ada follow upnya; pengarahan itu harus sederhana dan dijelaskan mengapa agar diperoleh saling pengertian; dan akhirnya digunakan pengarahan yang sifatnya konsultatif.

4. Pengawasan
    
    Sistem pengawasan harus terdapat alat ukur yang dapat mengidentifikasi kejadian yang baru dalam proses pengawasan. Kegiatan pengawasan dapat menjadi tolak ukur seberapa jauh hasil yang telah dicapai. Pengawasan perlu dilakukan pada setiap tahap dalam manajemen. Menurut Manulang (2006: 173) pengawasan adalah suatu proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya, dan bila perlu mengoreksi dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semua.
    
    Pengawasan merupakan tindakan atau proses kegiatan untuk mengetahui hasil pelaksanaan, kesalahan, kegagalan, untuk kemudian dilakukan perbaikan dan mencegah terulangnya kembali kesalahan-kesalahan itu, begitu juga menjaga agar pelaksanaan tidak berbeda dengan rencana yang telah ditetapkan (Djati Julitriarsa 2001: 101). Pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap di- perlukan meski rumit dan luasnya suatu organisasi. Dalam proses pengawasan terdiri atas tiga tahap yaitu (a) menetapkan standar pelaksanaan, (b) pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan (c) menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar dan rencana (Nanang Fatah 2009: 101).
    
    Pengawasan dapat dilakukan jika pemikiran fundamental manajemen diperhatikan dengan baik, menurut Sigian (2007: 126-128) pemikiran fundamental tersebut adalah orientasi kerja organisasi adalah efektifitas dan produktivitas, orientasi pekerjaan operasional organisasi adalah efektifitas pengawasan dilakukan oleh  manajer ketika sedang berlangsung, dan pengawasan berdasarkan proses dasar pengawasan yaitu: penentuan standar kerja, pengukuran hasil spesifik, pengukuran prestasi kerja,dan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi.

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA KEOLAHRAGAAN

    Manajemen sumber daya manusia dianggap sangat penting karena yang dikelola adalah manusia. Kadangkala manajemen sumber daya manusia ini dinamakan manajemen personal. Sejak tahun 1970 manajemen sumber daya manusia itu bertambah menjadi faktor yang sangat penting dalam mensukseskan roda organisasi. Organisasi yang besar mempunyai departemen sumber daya manusia yang khusus. Peranan sumber daya manusia dalam membantu men- ciptakan keunggulan daya saing organisasi rupanya telah diyakini oleh para praktisi manajemen.
 
    Sumber daya manusia dalam suatu organisasi dapat menjadi sumber keunggulan bersaing yang sangat berarti. Fungsi sumber daya manusia ialah untuk memberikan daya kerja yang memuaskan dan efektif pada suatu organisasi olahraga (Harsuki, 2012). Manajemen sumber daya manusia dapat dipahami dari dua kategori fungsi, ialah fungsi manajemen dan fungsi operasional. fungsi manajemen terdiri atas fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Sedangkan fungsi operasional meliputi kegiatan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja.
    
    Peranan sumber daya manusia dalam membantu menciptakan keunggulan daya saing organisasi rupanya telah diyakini oleh para praktisi manajemen. Maksud utama dari fungsi manajemen sumber daya manusia ialah untuk memberikan daya kerja yang memuaskan dan efektif pada suatu organisasi olahraga. Pada organisasi olahraga fungsi sumber daya manusia dapat dimulai dari mempertahankan catatan karyawan, ke pola latihan personal yang kompleks dan pengembangan sistem, merundingkan kompensasi, dan menampung keluhan. Pada organisasi yang kecil tanggung jawab untuk mengelola sumber daya manusia mungkin dijabat oleh atau manajer lembaga. Pada organisasi olahraga yang besar, departemen personal atau departemen sumber daya manusia secara tersendiri dan terpisah dapat terjadi.
    
    Sumber daya manusia merupakan manajemen sumber daya (resource) yang amat mendasar dan memerlukan perhatian yang khusus. Sumber daya manusia merupakan sebuah prasyarat dasar bagi proses pembangunan segala bidang. Menurut Agus Kristiyanto (2012) produktivitas pembangunan dapat mewujud karena tersedia sumber daya manusia yang bermutu dan memadai secara kuantitas. Sumber daya keolahragaan dalam Undang-undang Sistem Keolahragaaan Nasional dikenal dengan Tenaga Keolahragaan. Sumber daya keolahragaan merupakan investasi untuk menunjang secara langsung produktivitas hasil pembangunan keolahragaan.
    
    Sumber daya keolahragaan dapat dikelompokan ke dalam: (1) pelaku olahraga, menunjuk pada orang dan/ atau sekelompok orang yang terlibat secara langsung dalam kegiatan olahraga: (2) pembina olahraga, menunjuk pada orang yang memiliki minat dan pengetahuan, kepemimpinan, kemampuan manajerial dan/atau pendanaan yang didedikasikan untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan olahraga; (3) tenaga keolahragaan, menunjuk pada setiap orang yang memiliki kualifikasi dan sertifikasi kompetensi dalam bidang olahraga; dan (4) olahragawan (PP 16 Tahun 2007, Bab 1 pasal 1. Sumber daya keolahragaan menunjukan bahwa unsur manusia dalam sistem pembinaan dan pengembangan olahraga bersifat multikompleks. Hal ini juga akan berdampak pada bentuk dan tata cara pengelolaan, dalam memanage sumber daya yang terkait dengan aplikasi fungsi-fungsi manajemen pembangunan secara umum.

A. FUNGSI MANAJEMEN SUMBER DAYA KEOLAHRAGAAN

    
    Mescon, Albert, and Khedory (1995) memberikan definisi mana­ jemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Batasan manajemen menurut Freeman (1992) manajemen sebagai seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan orang-orang atau seni dalam mencapai segala sesuatu pekerjaan melalui orang-orang. Manajerial dalam dalam institusi apapun termasuk institusi olahraga selalu memiliki fungsi-fungsi yang meliputi: perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian (Stoner and Freeman, 1992).
    
    Huseian Argasasmita dalam Harsuki (2003) fungsi manajemen diuraikan sebagai tugas manajamen yang meliputi: (1) planning, berisi pencapaian tujuan, objektivitas, dan strategi; (2) organizing, berisi seleksi dan pengelompokan tindakan-tindakan tertentu untuk mencapai organisasi dan merancang suatu struktur yang tepat dalam pencapaian tujuan; (3) coordinating, berisi kerjasama antara sumber daya manusia dan departemen-departemen untuk memastikan tiap unit berfungsi secara keseluruhan dan mempertahankan kegiatan yang sejalan dengan tujuan serta objektivitas organisasi; dan (4) controling, berisi pengawasan terhadap kegiatan, pencapaian tujuan dan koreksi atas kesalahan.
    
    Harsuki (2007) membagi manajemen olahraga dalam tiga bagian besar yaitu: (1) manajemen event (peristiwa, kejadian); (2) manajemen lembaga/institusi permanen; dan (3) manajemen fasilitas olahraga. Event adalah kejadian atau peristiwa yang berlangsung dalam waktu tertentu, seperti olimpiade, Asian Games, SEA Games, PON dll. Lembaga permanen misalnya Kantor Olahraga Pemerintah, Olympic Council of Asia (OCA), KONI, Induk cabang olahraga. Manajemen fasilitas olahraga dapat diberikan contoh seperti stadion, gedung olahraga, kolam renang.
    
    Fungsi manajemen dalam sebuah institusi olahraga selalu ber- kaitan dengan kegiatan menyeleksi, menempatkan, mengorientasikan, serta mengevaluasi kinerja institusi tersebut. Bucher and Krotee (2002) sumber daya manusia memiliki kemungkinan lebih besar untuk bekerja demi keuntungan bersama dalam lingkungan yang terkelola secara horisontal dan mencari solusi bersama atas masalah- masalah serta bertindak sebaik mungkin dalam mewujudkan tujuan institusi. Manajemen sumberdaya manusia meliputi: (1) lingkup olahraga pendidikan, (2) olahraga prestasi, (3) olahraga rekreasi.

B. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA OLAHRAGA
    
    Pengembangan sumber daya manusia olahraga telah diformulasikan secara kuat dalam tujuan pendidikan tinggi. Dalam Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia bidang pendidikan, bahwa tujuan pendidikan tinggi adalah: (1) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengem- bangkan dan/ atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/ atau kesenian, (2) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/ atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. (http://www.dikti.org).
    
    Pengembangan masa depan profesi pendidikan jasmani dan olahraga tidak mungkin dilaksanakan dengan cara sederhana, me- lainkan harus dikaji dalam aspek luas yang menjadi akar permasalahannya. Orientasi pengembangan profesi yang dimaksudkan adalah berupa dasar acuan harapan pemenuhan sumber daya manusia keolahragaan yang secara rasional dapat diprediksi berdasarkan tren dan variabel lain yang memengaruhinya.
    
    Tujuan pengembangan sumber daya manusia diarahkan untuk meubah sumber daya manusia yang potensial menjadi tenaga kerja yang produktif. Kegiatan keolahragaan menurut Undang-undang Sistem Keolahragaan pasal 17 tidak hanya menyangkut pendidikan olahraga, tetapi juga olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengembangan sumber daya manusia.

C. MANAJEMEN STRATEGIK SUMBER DAYA MANUSIA
    
    Manajemen strategik adalah suatu proses, suatu pendekatan yang ditujukan untuk menghadapi tantangan persaingan yang dihadapi oleh organisasi (Harsuki, 2012: 154). Strategi ini dapat berupa pendekatan generik untuk berkompetisi, atau pengaturan khusus dan tindakan yang diambil untuk disesuaikan dengan situasi tertentu. Manajemen strategik adalah suatu proses untuk menganalisis suatu situasi kompetisi perusahaan, mengembangkan tujuan strategi per- usahaaan dan merancang suatu rencana kerja dan alokasi sumber daya (termasuk sumber daya manusia, organisasi, dan fisik).
    
    Manajemen strategik sumber daya manusia dapat dibayangkan sebagai pola dari pengembangan dan aktivitas sumber daya manusia yang terncana yang dimaksudkan untuk memungkinkan suatu organisasi mencapai tujuannya. Untuk menggunakan pendekatan manajemen strategik sumber daya manusia, pertama-tama harus mengerti peran manajemen sumber daya manusia dalam proses manajemen strategik (Raymond A. Noe, dkk.2008).

D. KOMPONEN DARI PROSES MANAJEMEN STRATEGIK
    
    Proses manajemen strategik mempunyai dua fase yang jelas dan memiliki saling ketergantungan, yaitu:
 
1. Perumusan Strategik 
    
    Kelompok perencanaan strategis menentukan suatu arah strategik dengan mendefinisikan misi dan tujuan perusahaan, kesempatan dan ancaman eksternal, serta kekuatan dan kelemahan internal. Kemudian mengumpulkan berbagai alternatif strategik dan membandingkan kemampuan alternatif guna mencapai misi perusahaan.
    
    Empat komponen utama dari proses manajemen strategik sangat relevan dengan perumusan stratejik.
  • Komponen pertama adalah misi organisasi. Misi adalah per- nyataan alasan adanya organisasi. Ini biasanya mengkhususkan pada pelayanan pelanggan, kebutuhan memuaskan nilai yang diterima pelanggan dan teknologi yang digunakan.
  • Kedua, tujuan (goal) organisasi adalah apa yang diharapkan untuk dicapai dalam jangka menengah hingga panjang.
  • Ketiga, analisis ekonomi terdiri atas pengujian lingkungan operasi organisasi guna mengidentifikasi strategi peluang dan ancaman.
  • Keempat, analisis internal berusaha mengidentifikasi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) organisasi. Analisis ini memfokuskan pada kuantitas dan kualitas sumber daya yang tersedia dalam organisasi, seperti keuangan, teknologi, dan sumber daya manusia.
2. Pelaksanaan Strategik
    
    Organisasi menindaklanjuti melalui strategi yang dipilih. Pelaksanaan strategik ini terdiri atas pembuatan struktur organisasi, pengalokasian sumber daya, meyakinkan bahwa perusahaan memiliki karyawan yang terampil di tempat kerjanya, dan mengembang- kan sistem hadiah yang menggabungkan perilaku karyawan dengan tujuan strategik organisasi.
    
    Dasar pemikiran strategi pelaksanaan ialah bahwa suatu organi- sasi mempunyai bentuk struktur yang bermacam-macam. Lima variabel penting menentukan kesuksesan dalam pelaksanaan strategi, yaitu:
  • Struktur organisasi
  • Rancangan tugas
  • Pemilihan, pelatihan, dan pengembangan manusia
  • Sistem penghargaan
  • Tipe informasi dan sistem informasi
    Fungsi manajemen sumber daya manusia harus mengembangkan manajemen kinerjanya dan sistem penghargaan yang membimbing karyawan untuk bekerja dan mendukung perencanaan strategik.

E. PERAN SUMBER DAYA MANUSIA
    
    Manajemen SDM memiliki dua kategori fungsi, yaitu fungsi manajemen dan fungsi operasional. Fungsi manajemen terdiri atas fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, sedangkan fungsi operasional meliputi kegiatan pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja. Untuk menunjang tercapainya tujuan organisasi maka keberadaan sumber daya manusia harus dapat dioptimalkan terutama peran dan fungsi strategisnya. Manajemen sumber daya manusia dapat dikelompokan dalam tiga peran utama, yaitu peran administrasi, peran operasional, dan peran strategis.

1. Peran administrasi manajemen sumber daya manusia
    
    Peran administrasi sumber daya manusia lebih ditekankan pada upaya memproses dan menyimpan catatan. Semua aktivitas dalam organisasi dicatat dan dibuatkan data base, sehingga pada saat dibutuhkan oleh pihak-pihak tertentu dapat dilaporkan dengan segera. Peran administrasi menjadikan sumber daya manusia sebagai tenaga pencatat saja dan tidak memberikan kontribusi sesuai dengan peran yang sebenarnya.

2. Peran operasional manajemen sumber daya manusia.
    
    Peran operasional lebih mengacu pada aktivitas-aktivitas penyelenggaraan dan mempersiapkan kebutuhan organisasi terhadap pegawai. Tugas pokok manajemen sumber daya manusia ialah merencanakan perekrutan, menerima lamaran, melakukan seleksi, menyusun anggaran gaji, mengadakan pelatihan dan pengembangan dan yang lainnya.

3. Peran strategis manajemen sumber daya manusia
    
    Pentingnya sumber daya manusia sebagai aset yang berharga bagi organisasi, maka peningkatan peran strategis menjadi suatau keharusan. Menjamin bahwa organisasi memiliki sumber daya manusia yang cukup dalam kuantitas maupun kualitas merupakan salah satu peran strategis sumber daya manusia. Peran strategis menekankan pada kondisi sumber daya manusia untuk jangka waktu yang panjang guna meningkatkan nilai kompetitif organisasi dalam persaingan usaha.

F. TUGAS-TUGAS MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
 
    Proses manajemen sumber daya manusia ialah mengenai:
  1. Penarikan tenaga kerja yang berkualitas, mengelola perencanaan, perekrutan, dan seleksi tenaga kerja.
  2. Pengembangan tenaga kerja yang berkualitas, mengelola orientasi, pelatihan dan pengembangan, serta perencanaan dan pengembangan karier pegawai.
  3. Memepertahankan kinerja yang berkualitas, mengelola pemeliharaan dan pergantian, penilaian kinerja, kopensasi dan kebutuhan, serta hubungan tenaga kerja dan manajemen (Amirullah dan Haris Budiono, 2004).
    Adapun tugas-tugasnya antara lain yaitu:
    1. Perencanaan sumber daya manusia
    Perencanaan sumber daya manusia merupakan proses di mana manajer menjamin bahwa organisasi memiliki jumlah dan jenis tenaga kerja yang tepat di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat pula yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang akan menolong organisasi tersebut mencapai sasarn­sasaran secara keseluruhan secara efektif dan efisien.
    2. Perekrutan pegawai
    Penarikan tenaga kerja merupakan suatu proses atau tindakan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan tambahan tenaga kerja. Melalui beberapa tahapan yang mencakup identifikasi dan evaluasi sumber­sumber penarikan kerja, menentu­ kan kebutuhan tenaga yang diperlukan, proses seleksi, penempatan dan orientasi tenaga kerja.
    3. Seleksi
    Seleksi adalah proses untuk memutuskan apakah calon yang sudah melamar dapat diterima atau tidak. Para manajer sumber daya manusia menggunakan proses seleksi guna mengambil keputusan penerimaan pegawai baru. Tujuan dari proses seleksi adalah untuk memilih pegawai yang cocok dengan pekerjaan dan organisasi. Pada dasarnya seleksi dilakukan untuk memberikan masukan bagi organisasi dalam rangka mendapatkan pegawai sesuai dengan kebutuhan organisasi.
    4. Sosialisasi atau orientasi
    5. Pelatihan dan pengembangan
    6. Penilaian prestasi
    7. Promo, transfer, dan demosi


MANAJEMEN FASILITAS OLAHRAGA

    Manajemen fasilitas olahraga adalah proses perencanaan, pengadministrasian, koordinasi dan penilaian pelaksanaan harian dari fasilitas olahraga (Harsuki: 2012). Fasilitas olahraga tidak hanya sangat mahal harganya, baik itu fasilitas terbuka atau tertutup. Pembangunan fasilitas tersebut juga tidak murah harganya, demikian juga dengan pemeliharaannya. Fasilitas olahraga yang digunakan oleh perkumpulan olahraga, induk cabang olahraga, dan fasilitas olahraga yang dikelola oleh pemerintah/lembaga, yang pada umum- nya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

A. MACAM-MACAM FASILITAS OLAHRAGA 
 
    Mengurus fasilitas olahraga dapat dibagikan dalam macam/ tipe, seperti:
  1. Fasilitas tunggal, artinya fasilitas itu umumnya hanya digunakan untuk satu cabang olahraga saja. Misalnya stadion baseball, bowling, kolam renang, dll.
  2. Fasilitas serba guna. Dapat dikategorikan menjadi indoor maupun outdoors.
  3. Fasilitas pada rumah kelab (club house), seperti di negara-negara Eropa, dilengkapi dengan fasilitas terbuka maupun tertutup.
  4. Fasilitas olahraga yang besar tidak hanya menyediakan ruangan untuk berpraktik olahraga saja, tetapi juga menyediakan ruangan untuk para penonton.
B. CIRI-CIRI FASILITAS YANG DIKELOLA DENGAN BAIK
  1. Beroperasi pada jam yang ditentukan, dengan memberikan pelayanan yang ramah.
  2. Pelanggan baru diterima secara baik, dan mendapat petunjuk sehingga dapat menggunakan fasilitas sebaik-baiknya.
  3. Prosedur keselamatan, PPPK, pertolongan darurat, dan lain- lain.
C. MENGURUS FASILITAS OLAHRAGA
    
    Fasilitas olahraga tidak hanya sangat mahal biaya pembangunannya, biaya pemeliharaan pun tidak kurang mahal juga. Pengunaan fasilitas yang ada harus sangat dijaga sehingga dapat digunakan pada kurun waktu lama. Dengan demikian, anggaran yang ada dapat dicurahkan juga untuk program pengembangan olahraga. Faktor yang terkait dengan fasilitas olahraga adalah:
  1. Tuntutan atau kenginan pengguna adalah faktor kritis pada tahap pertama, yang dipakai sebagai dasar keputusan penyediaan fasilitas. (a) Terlalu sedikit fasilitas membuat frustasi masyarakat pengguna, sehingga mereka meninggalkannya, (b) Terlalu banyak fasilitas mengakibatkan beratnya biaya operasional.
  2. Keputusan untuk membangun, mengganti, memindahkan, mempertahankan dan bahkan menjual fasilitas dikaitkan pada perencanan strategi institusi. (a) hanya dengan satu sistem menyeluruh yang dapat mengantarkan partisipasi masa dan prestasi tingkat tinggi dalam olahraga, (b) secara singkat fasilitas dan inti bisnis dari perkembangan olahraga sangat terkait erat.
D. FASILITAS OLAHRAGA MEMBUTUHKAN EVALUASI
    
    Sifat dasar fasilitas olahraga meliputi hal-hal berikut.
  1. Tanpa fasilitas memadai, olahraga massal dan prestasi tidak dapat berlangsung dengan baik dan sulit untuk berkembang dengan baik.
  2. Pengembangan fasilitas sangat mahal, makin besar fasilitas makin tinggi pemeliharaannya.
  3. Guna menentukan fasilitas yang tepat, dibutuhkan suatu perangkat yang disebut dengan evaluasi kebutuhan.
    Evaluasi kebutuhan ialah perangkat yang digunakan untuk menentukan apakah fasilitas baru sudah diperlukan. Jika sudah diperlukan bagaimana tipe dan spesifikasi fasilitas tersebut.

E. MERENCANAKAN FASILITAS OLAHRAGA
    
    Fasilitas yang akan digunakan untuk pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga, maka dua prinsip yang berhubungan dengan manajemen fasilitas, haruslah mendapat perhatian yang utama dari pembina, yaitu:
  1. Fasilitas dibangun sebagai hasil dari kebutuhan dan program masyarakat.
  2. Perencanaan bersama adalah sangat esensial untuk merancang dan membangun fasilitas yang bermutu.
    Prinsip dan garis besar manajemen untuk perencanaan fasilitas yang akan diaplikasikan dalam semua level pendidikan serta organi- sasi ialah sebagai berikut:
  1. Fasilitas harus di rancang terutama bagi peserta dan kelompok pengguna.
  2. Fasilitas harus dirancang untuk penggunaan secara bersama dengan mempertimbangkan pola dan arah secara potensial.
  3. Semua perencanaan harus didasarkan pada tujuan bahwa pengenalan lingkungan baik fisik maupun non fisik haruslah aman, terjamin, menarik, nyaman, bersih, praktis, dapat dijangkau, dapat menyesuaikan dengan kebutuhan individu.
  4. Fasilitas haruslah ekonomis dan mudah untuk dioperasikan, dikontrol, dan dipelihara.

MANAJEMEN PEMASARAN OLAHRAGA

A. DEFINISI PEMASARAN OLAHRAGA
    
    Fokus dari pemasaran adalah pada kebutuhan pelanggan dan bukan kebutuhan si pelaku pemasaran. Mullin (1985) memberikan pengertian pemasaran olahraga terdiri atas semua aktivitas yang terencana untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan pada partisipasi pertama, kedua, ketiga dan penonton pertama, kedua dan ketiga melalui proses pertukaran. Partisipan pertama adalah mereka memainkan olahraga, partisipan kedua adalah wasit dan juri, sedangkan partisipan ketiga adalah penyiar radio dan televisi. Penonton kelompok pertama adalah mereka yang menonton langsung event olahraga, penonton kelompok kedua adalah mereka yang mendengar, melihat atau membaca pertandingan olahraga melalui media radio, televisi atau media cetak, sedangkan penonton kelompok ketiga adalah mereka yang memperoleh pengalaman produk olahraga secara tidak langsung, misalnya cerita lisan dari penonton kelompok pertama dan kedua.
    
    Pemasaran olahraga berkembang dengan dua arah, yaitu (a) pemasaran produk dan servis olahraga (b) pemasaran yang meng- gunakan olahraga sebagai suatu wahana promosi untuk pelanggan dan servis serta produk industri (Mullin: 1985). Pemasaran olahraga sebagai proses merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk produksi, pemberian harga, promosi, dan distribusi dari suatu produk olahraga untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan para pelanggan serta untuk mencapai tujuan institusi (Pitts and Stotlar, 1996).
    
    Sementara pemasaran olahraga dapat didefinisikan sebagai perihal mendefinsikan dengan jelas identitas unik dalam sebuah produk olahraga dan memperkuatnya dengan integritas yang otentik untuk membangun citra produk yang kuat. Dari definisi pemasaran olahraga tersebut pemasaran olahraga harus didefinisikan kembali sebagai segitiga dari merek, positioning dan diferensiasi dengan di- lengkapi dengan brand identity, brand integrity dan brand image. Di dunia yang konsumennya horisontal, merek tidak berarti apa-apa jika hanya mengartikulasikan positioning­nya. Mereka mungkin memiliki identitas yang jelas dalam benak konsumen, namun tidak selalu identitas yang baik. Positioning adalah pernyataan yang tegas dan menyadarkan konsumen agar berhati–hati terhadap merk yang tidak otentik. Sementara diferensiasi merupakan DNA merk yang men- cerminkan integritas merk sebenarnya. Diferensiasi adalah bukti kuat bahwa merek menyampaikan apa yang dijanjikan kepada konsumen. Diferensiasi yang bersinergi dengan positioning secara otomatis akan menciptakan Brand Image yang baik.
    
    Mullin (1985) mengatakan bahwa manajeman pemasaran adalah bagian manajemen olahraga yang paling dinamis dan yang paling mengesankan, karena pemasaran olahraga ruang lingkupnya adalah Promosi, Pengiklanan, Penjualan dan Hubungan Masyarakat. Ada empat hal yang menjadi perhatian Mullin dalam pemasaran olahraga, diantaranya:
  1. Olahraga adalah sesuatu yang tidak nyata dan sangat subjektif, oleh karena kesan, pengalaman, dan penafsiran terhadap even olahraga beragam dari orang per orang.
  2. Olahraga adalah sesuatu yang tidak konsisten dan tidak dapat diramalkan, karena kemungkinan cederanya atlet, keadaan emosi pemain, momentum regu, dan keadaan cuaca.
  3. Olahraga adalah barang yang cepat usang, oleh karena even olahraga yang sedangdipertandingkan adalah apa yang pe- nonton ingin lihat.
  4. Olahraga melibatkan emosi.
B. RUANG LINGKUP DAN PENTINGNYA PEMASARAN
    
    Pengembangan pemasaran strategis yang menghubungkan organi- sasi dengan lingkungan dan pola pikir bahwa pemasaran adalah tanggung jawab seluruh organisasi, bukan saja fungsi khusus yang dilakukan oleh bagian tertentu, harus ditanamkan pada setiap karyawan. Pemasaran adalah fungsi yang komplek, dan pemasaran olahraga lebih komplek lagi. Olahraga mempunyai sifat-sifat tertentu yang membuat produk olahraga sesuatu yang unik. Dengan memberikan sifat-sifat yang unik ini, faktor-faktor apa yang harus di- pertimbangkan dalam membuat keputusan. Tentang pemasaran, promosi, dan penjualan produk olahraga.
    
    Khusus mengenai pemasaran olahraga di katakan Mullin (1985) bahwa pemasaran olahraga merupakan bagian dari manajemen olahraga yang dinamis dan paling mengesankan oleh karena ubah, meliputi lingkup promosi, pengiklanan, penjualan, dan hubungan masyarakat. Ini adalah fungsi manajemen di mana produk (jasa) bertemu dengan pelanggan, dan secepat selera pelanggan berubah, maka strategi pemasaran juga harus di ubah. Olahraga sebagai suatu produk berlainan dengan barang atau servis yang lain dan oleh karena penontonnya juga harus di pasarkan secara unik.
    
    Pertama, olahraga adalah sesuatu yang tidak nyata dan jelas sangat subjektif, oleh karena kesan, pengalaman, dan penafsiran ter- hadap event olahraga beragam dari tiap orang. Kedua, olahraga adalah sesuatu yang tidak konsisten dan tidak dapat diramalkan, karena kemungkinan cederanya atlet, keadaan emosi pemain, momentum regu, dan keadaan cuaca. Faktor-faktor ini mengakibat- kan pada hasil tidak menentu dari pertandingan olahraga. Ketiga, olahraga adalah barang yang cepat menjadi usang, karena event olahraga yang sedang dipertandingkan adalah apa yang penonton ingin lihat. Keempat, olahraga melibatkan emosi (Harsuki, 2012: 212).
    
    Unsur utama yang terlibat di dalam pemasaran dinamakan ”marketing mix”. Marketing mix terdiri atas dari product (produk), price (harga), place (tempat) dan promotion (promosi). Unsur-unsur ini di- ciptakan dengan baik di dalam industri pemasaran dan telah dikenal secara umum sebagai 4P.
  1. Product (produk), adalah suatu barang yang nyata, suatu servis, atau suatu kualitas barang yang tidak nyata yang memuaskan keinginan atau kebutuhan pelanggan.
  2. Price (harga), mewakili nilai dari produk dan harga dan pelanggan harus menerima untuk mendapatkan produk tersebut. Pelanggan menentukan nilai dari suatu produk dengan menye- imbangkan manfaat yang diharapkan dari pembelian produk tersebut terhadap harga yang diharapkan dari produk. Jika manfaat yang diakibatkan oleh suatu produk melebihi harga yang tercakup pada produk, maka pelanggan percaya bahwa produk tersebut mempunyai nilai.
  3. Place (tempat), mewakili alur distribusi di mana pelanggan dapat memperoleh suatu produk.
  4. Promotion (promosi), melibatkan pengggunaan teknik untuk mengomunikasikan kesan dan pesan tentang suatu produk tersebut (parks dkk., 1998).
    Menurut Pitts and Stotlar (1996) didalam mengembangkan suatu rencana pemasaran olahraga ada 10 langkah proses yang diekspresikan sebagai 10 P, yaitu:
  • Purpose (tujuan)
  • Product (product)
  • Project market (pangsa pasar)
  • Position (posisi)
  • Pick players (pemilihan pemain)
  • Package (paket)
  • Price (harga)
  • Promotion (promosi)
  • Place (tempat)
  • Promise (janji).
    Indonesia yang memiliki potensi luar biasa dalam industri olahraga seharusnya dapat dimaksimalkan potensi tersebut dengan menggunakan strategi-strategi pemasaran produk industri olahraga. Istilah pemasaran olahraga di Indonesia akhir-akhir ini mulai banyak terdengar, khususnya untuk beberapa cabang olahraga yang populer di masyarakat Indonesia.

C. SEJARAH PEMASARAN OLAHRAGA
    
    Sejarah pemasaran olahraga sangat sedikit sekali dilakukan pada masa lalu, berbeda dengan saat ini dimana kegiatan pemasaran olahraga hampir diterapkan pada produk baik berupa barang maupun jasa seperti pertandingan olahraga baik nasional, regional maupun internasional. Sama halnya dengan industri olahraga yang menurut sejarah dikatakan bahwa olahraga memasuki masa industri ketika Olimpiade Los Angeles tahun 1984, maka kegiatan pemasaran dalam olahraga juga dirintis pada saat Panitia Penyelenggara Olimpiade Los Angels 1984, yang saat itu diketuai oleh Peter Ueberroth. Dalam sejarah Olimpiade musim panas pembiayaan selalu didukung oleh Pemerintah masing-masing negara yang men- jadi tuan rumah pada saat itu. Pertama kalinya pada tahun 1984 dari pihak panitia tidak meminta dukungan pemerintah namun Olimpiade 1984 dikelola sendiri secara bisnis yang pada akhirnya memperoleh keuntungan berjuta-juta dolar dan mengakibatkan adanya pertumbuhan ekonomi di Negara Amerika Serikat.
    
    Di Indonesia sendiri kegiatan pemasaran olahraga dilakukan PSSI dalam rangka kompetisi LIGA yang dimulai pada tahun 1980, yang terakhir pada tahun 2002 dinamakan LIGA Bank Mandiri. Sedangkan, untuk bola basket pertama kali kegiatan marketing olahraga pada tahun 1982 ketika kompetisi bola basket utama yang disingkat KOBATAMA. Sampai saat ini kegiatan pemasaran olah- raga di Cabang Olahraga Basket merupakan yang terbaik di negeri ini mulai dari KOBATAMA, IBL dan sekarang NBL. Langkah bola basket pada tahun 1982, diikuti oleh PB PBVSI dengan kompetisi LIGAPRO Bola Voli yang diberikan pada marketing agency PT M-LING, dan sampai saat ini PB PBVSI dengan Livoli dan Proliga- nya tetap menggunakan kegiatan pemasaran olahraga. Kegiatan pemasaran olahraga tersebut kemudian diikuti oleh cabang-cabang olahraga lainnya meskipun belum sebesar sepakbola, basket dan bola voli.
    
    Saat ini kegiatan pemasaran olahraga di Indonesia sudah ber- kembang, Indonesia telah mengikuti cabang-cabang olahraga Internasional, misalnya: cabang olahraga sepeda Tour De Singkarak yang menerapkan konsep wisata dan olahraga, atau basket dengan NBL dan WNBL yang semakin menakjubkan, bola voli dengan Proliga dan Livolinya, ataupun kegiatan olahraga event internasional seperti Indonesia Super Series Premier yang telah menyihir masyarakat dunia dan mendapat pengakuan dari BWF sebagai event Bulu Tangkis terbaik.
    
    Di Indonesia telah memproduksi banyak barang yang memiliki kualitas baik, sebagai contoh merk LEAGUE dari yang telah membuat inovasi dengan menciptakan alat olahraga, sepatu olahraga, dan pakaian olahraga. Sehingga, kegiatan pemasaran olahraga sudah merupakan sebuah keharusan bagi mereka yang bergerak di bidang industri olahraga. Hal ini, merupakan peranan yang sangat penting untuk menarik konsumen agar mau membeli atau bisa dikatakan sebagai strategi dalam pengumpulan dana event olahraga internasional.

D. PROSES PERENCANAAN PEMASARAN
    
    Seorang ahli manajemen pemasaran, Kotler (1976) mengidentifikasi proses perencanaan pemasaran sebagai urutan yang sentral dalam pemasaran sebagai urutan yang sentral dari pemasaran yang efektif. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa pemasaran olahraga sangat terkait dengan unsur-unsur yang terkenal dengan sebutan marketing mix, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat, atau sebutan lain dari distribusi) dan promotion (promosi). Pemasaran yang diaplikasikan pada olahraga ditunjukan untuk bagian yang penting dalam suatau urutan di mana tampak dalam suatu proses perencanaan pemasaran sebagai berikut.
1. Pasar
Analisis pemasaran harus dimulai secara alamiah dengan mem- pertimbangkan tempat penjualan produk maupun servis, lebih khusus lagi suatu evaluasi dari struktur pasar, dan kebutuhan dari pelanggan yang potensial. Langkah pertama untuk pelaku pemasaran adalah menciptakan suatu gagasan tentang konsep produk atau program atau posisi produk yang unik itu.
2. Konsep produk atau posisi
Dalam mendefinisikan konsep produk bahwa pendekatan optimal akan mengidentifikasi suatu definisi yang ketat dari segmen pasar di mana suatu produk yang sangat spesifik di­ targetkan.
3. Pelanggan Olahraga

E. KOMITE OLIMPIADE INTERNASIONAL (IOC) DAN KOMISI PEMASARAN OLAHRAGA 
 
1. Komisi Pemasaran Olahraga IOC
    
    Ketika gerakan olimpiade tumbuh dan berkembang, pengalaman mengumpulkan dana sangat menantang. Pada tahun 1980 langkah-langkah telah diambil sebagai berikut.
  • Mengembangkan suatu program yang akan menjamin keuangan untuk kepentingan gerakan olympic.
  • Membuat variasi sumber-sumber dana, sebagaimana diketahui sebelum tahun 1988, hampir 80 % pendanaan didapat dari biaya hak penyiaran televisi dari Amerika Serikat.
  • Menyusun pembagian dana secara seimbang bagi NOC (National Olympic Committee), OCOG (Organizing Committee Olympic Games), IF (International Federation), dan IOC (International Committee Olympic), untuk memfasilitasi keuangan mereka yang independen.
  • Membatasi komersialisasi yang tidak terkontrol namun ber- potensi dari olympic, dengan jalan mengurangi jumlah ke- mitraan komersil dan mengawasi penggunaan simbol-simbol olympic.
    IOC selaku pemilik dari olympic games dan simbol-simbol olympic, bertanggung jawab akan pengarahan yang menyeluruh dan manajemen dari program pemasaran olimpiade. Departemen pemasaran IOC melaksanakan saran yang telah disetujui oleh sumber baru dari komisi keuangan. Departemen ini adalah tangan yang fungsional dari usaha pemasaran dan bekerja langsung dengan mitra, penyiaran TV dan radio, NOC, dan panitia penyelenggara olimpiade untuk:
  • Mengembangkan program baru seperti TOP (The Olympic Program) program sponsor, pengaturan penyuplai dan program- program lisensi.
  • Membantu membuat kesepakatan untuk hak penyerian olympic games dan mengembangkan kontrak yang cocok dengan kebijakan penyiaran IOC tentang pertandingan yang disiarkan oleh televisi yang memiliki akses sebanyak mungkin pada penonton di seluruh dunia.
  • Membantu OCOG (Organizing Committee of the Olympic Games) untuk mengembangkan program pemasaran sesuai dengan rencana menyeluruh dari IOC yang telah disetujui oleh IOC session.
  • Memberikan pendidikan pada National Olympic (Komite Olympiade Nasional kalau di Indonesia disebut KONI) tentang pemasarannya dan bagaimana mengembangkan program lokal.
2. Sponsor yang mempuyai lingkup dunia dan gerakan olympic
    
    Pembiayaan mitra bisnis olympic, pengalaman, produk dan teknologi, memberikan support langsung pada panitia penyelenggara olimpiade, Komite Olimpiade Nasional, Federasi Internasiona, dan IOC. Kontribusi mereka dalam bentuk keterlibatannya dengan program TOP dan IOC:
  • Program TOP (The Olympic Program)
    Untuk pertama kalinya dalam sejarah olimpiade, TOP (1985-1988) mengumpulkan Olympic Family (terdiri atas IOC, NOCs, Organizing Committee) pada meja perundingan dengan para pengusaha selaku sponsor yang potensial, adapun hasilnya dapat dicatat sebagai berikut:
  1. TOP I (1985-1988) mengumpulkan sebanyak $ 95 juta dan melibatkan 9 mitra dunia.
  2. TOP II (1989-1992) mengumpulkan sebanyak $ 175 juta dengan 12 mitra dunia.
  3. TOP III (1993-1996) mengumpulkan $ 350 juta dengan 10 mitra dunia.
  4. TOP IV (1997-2000) menumpulkan kira-kira $ 500 juta dengan 11 mitra dunia.
  5. TOP V (2001-2004) mempunyai 10 sponsor di seluruh dunia dan diperkirakan mengumpulkan dana lebih dari 600 juta % (IOC, Olympic solidarity, 2001).
    Mitra dari TOP termasuk: Coca-cola, IBM, Kodak, John Hancock (mutual Life Insurance Company), Mcdonald, Panasonic, Samsung, Sport Illustrated TIMES, UPS, VISA, XEROX (IOC, Olympic Solidarty, tahun 2000)
  • Pembayaran hak penyiaran
    Hak penyiaran televisi dalam Olympic Games dialokasikan dan dijual oleh IOC setelah berkonsultasi dengan OCOG (Organizing Committee of the Olympic Games). Televisi adalah media yang hampir seluruh dunia menontonya dan mempunyai pengalaman dengan Olympic Games. Untuk alasan ini, ke- bijaksanaannya penyiaran televisi IOC yang mendasar, seperti yang tercantum dalam piagam Olympic, adalah untuk menjamin bahwa penyiaran olimpiade tersedia bagi seluruh dunia.
  • Sponsorship, penjualan karcis, dan Lisensi
  1. Sponsorship. Kontribusi mitra dan supplier yang meliputi seluruh dunia telah berlangsung jauh melebihi support keuangan, mitra dan perusahaan supplier menyediakan bantuan teknis dalam cakupan yang luas, pelayanan dan karyawan dengan teknologi mutakhir yang perbantukan kepada panitia penyelenggara olimpiade, dan kepada atlet dari hampir semua Komite Olympiade Nasional.
  2. Penjualan karcis. Kebijaksanaan dasar penggunaan karcis dikembangkan oleh panitia penyelenggara Olympiade. IOC dengan kontrak sari kota tuan rumah olimpiade mensyaratkan bahwa panitia penyelenggara menetapkan harga karcis secara wajar agar menjamin penonton olimpiade dapat disediakan bagi semua orang.
  3. Lisensi. Perusaan pemegang lisensi adalah pencipta cindera mata olimpiade yang memfokuskan pada penyelenggaraan olimpiade dan pada regu nasional. Pemegang lisensi membayar suatu presentasi keuntungan kepada IOC, NOC, atau kepada panitia penyelenggara untuk hak menggunakan emblem bagi barang dagangan. Pada masa lalu program lisensi IOC difokuskan pada penertiban buku dan video kenangan olimpiade. Belakangan ini, IOC memusatkan perhatian pada pengembangan program pemberian lisensi jangka panjang yang mengikutsertakan masyarakat umum dalam olimpiade.

REFERENSI
 
  1. Ade Ibrahim Andrawijaya. (1986). Perilaku Organisasi. Bandung: Sinar Baru.
  2. Agus Kristiyanto. (2012). Pembangunan Olahraga. Surakarta: Yuma Pustaka.
  3. Amirullah dan Haris Budiyono. (2004) Pengantar manajemn.Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004.
  4. Bucher, Charles A.,and Krote, march L. (2002). Manajemen and Physical Education and Sport. New York: McGraw-Hill, Byrne, J.A., (2002) After Enron:The ideal Corporation Busines Week.
  5. David K. (1960). The Process Communication. New York: Holt Rinehart & Winston.
  6. Drucker. (1974). Management: Tasks, Responsibilities, Practices. New York: Harper & Row.     , (2005). Managing Nonprofit Oeganization, Principles and Peactices. New York: Harper Collins Publisher, Inc.
  7. Cravens, David W. (1994). Strategic Marketing. Burr Ridge, K Richad D irwin Inc.
  8. Effendi, Usman. (2014).Asas Manajemen. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  9. Fahmi, Irham. (2011). Manajemen Teori, kasus dan Solusi. Bandung: Alfabeta.
  10. Harsuki. (2003). Pemasaran Olahraga. Dari Harsuki dan Soewatini Elias (Editor), Perkembangan Olahraga Terkini, kajian para Pakar. Jakarta: PT RajaGrafindo., (2012). Pengantar Manajemen Olahraga.Jakarta: PT RajaGrafindo. 
  11. Husaini Usman. (2012). Manajemen teori, praktik dan riset pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Husdarta. (2011). Manajemen pendidikan jasmani. Bandung: Alfabeta. H.B. Siswanto.(2007). Pengantar Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara International Olympic Commite. (2004). Olympic Charter. Lausane: IOC.          , (2005) Sport Adminstration Manual, Olympic Solidarity, Lausanne.
  12. Jones, G.R.(2004). Organizational theory, design,and change. Text and cases. Pearson Prentice Hall:Upeer Saddle River, N.J.Krotee, March L. & Bucher, Charles A. (2007). Management of physical education and sport. United States: Mc Graw Hill. Mullin, B.J, Hardy S. and Sutton, W.A.(1998). Sport Marketing. USA: Human Kinetic Publisher, Champaign II.
  13. Leith, Larry M. (1990). Coaching Guide to Sport Administration. Illinois: Leisure Pres, Campaign. Noe, Reymond A., Hollenbeck, John R., Gerhart, Barry, and Wright, Patric M,.(2008). Human Resources Management. New York: McGraw-Hill.
  14. Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
  15. Olympic Solidarty. (2006). Sport Administrasi Manual. Lausane: IOC. Parks, Janet B., et al, Editor. (1998). Contemporary Sport Management. USA: Human Kinetics Champaign II.
  16. Dasar-Dasar Manajemen Olahraga Paturusia, Ahmad.(2012).  Manajemen Pendidikan  jasmani dan Olahraga. Jakarta: Rineka Cipta.
  17. Robbin, Stephen P., dan Coulter Mary. (2005). Manajemen. Terjemahan, Alih Bahasa: Harry Slamet, New Jersey: Pearson Education, Inc.
  18. Schein, E.H. (1992). Organizational Culture and Leadership. San Fransisco: Jossey Boss.
  19. Siagian, Sondang P. (1989) Filsafat Adminstrasi. Jakarta: CV Haji Masagung. , (1991). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.
  20. Siswanto. (2005). Pengantar Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara. Slack, Trevor. (1997). Understanding Sport Organization. USA: Human Kinetics, Champaign,II.
  21. Susetyo Hadi. (2011). Dasar Bisnis dan Manajemen.Pusat pengembangan Buku Ajar UMB.
  22. Terry, Geogre R. (1986). Asas­asas Manajemen. (Terjemahan:Winardi). Bandung: Alumni.          , (2008) Prinsip-prinsio Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara.
  23. T. Hani Handoko. (2003). Manajemen. Yogyakarta: BPFE. Waharsono. (2000). Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  24. Weinberg, Robert S. & Gould, Daniel. (2007). Foundation of sport and exercises psychology. Miami: Human Kinetics.
  25. Winardi. (2000). Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nama   : Deddy Kurniawan Saputra

NPM   : 20198500094

Kelas   : POR 5 Bintara

MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU KUALITAS PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL. (BUDAYA BARU BUDAYA SEKOLAH BERBASIS DIGITAL)

MANAJEMEN SEKOLAH  TOPIK      : BUDAYA SEKOLAH PRIMA DI ERA DIGITAL NAMA      : DEDDY KURNIAWAN SAPUTRA NPM         : 20198500094 MAHAS...