
Budaya menurut Soekamto berasal dari kata Sansekerta “budayyah” yang merupakan bentuk jamak “budhi” yang berarti akal. Dengan demikian budaya dapat di artikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan akal dan budi (Soekanto; 1983:166).
Definisi budaya menurut Gertz (dalam Stolp & Smith 1995:12) seperti berikut: “Kebudayaan merepresentasikan suatu pola makna yang ditransmisikan yang diwujudkan dalam simbol. Simbol-simbol itu termasuk tertulis (eksplisit) dan tersembunyi (implisit) pesan dikodekan dalam bahasa beberapa unsur penting dari budaya adalah norma, nilai, kepercayaan, tradisi, ritual, upacara, dan mitos yang diterjemahkan oleh sekelompok orang tertentu.”
Pengertian Sekolah – Sekolah menjadi salah satu hal penting yang menjadi dasar pendidikan bagi anak-anak. Sekolah merupakan ladang ilmu yang nantinya dapat menjadi bekal di masa mendatang. Hal ini menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan bagi para orangtua yang menyukai sesuatu yang terbaik untuk anaknya. Oleh sebab itu, penting mengetahui tentang pengertian sekolah, unsur-unsur dalam sekolah, fungsi sekolah, jenjang sekolah, dan lain sebagainya.
Pengertian Secara Umum
Pengertian sekolah adalah suatu lembaga pendidikan yang bersifat informal, non-formal, dan formal yang bertujuan untuk membimbing, membina, dan memberikan berbagai macam pelajaran mengenai pengetahuan umum maupun pendidikan karakter. Sekolah di Indonesia didirikan oleh instansi negeri maupun swasta yang menyediakan berbagai macam kegiatan yang bersifat positif.
Pengertian Menurut KBBI
Menurut KBBI pengertian sekolah yaitu salah satu bangunan atau lembaga yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar dengan berbagai jenjang pendidikan. Jenjang pendidikan tersebut terdiri atas SD atau MI, SLTP atau Mts, dan SLTA atau MA.
Pengertian Sekolah Menurut Para Ahli
Ferry Effendy dan Makhfudli
Menurut Ferry Effendy dan Makhfudli sekolah dapat didefinisikan sebagai bermain, bersosialisasi, berkreasi, dan tentunya untuk belajar dan mengasah otak. Sekolah tidak hanya tentang belajar, akan sekolah juga bertujuan untuk membina dan membimbing para siswanya. Selain itu, sekolah juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada para siswa mengenai kesehatan dan kebugaran.
Daryanto
Menurut Daryanto sekolah berarti suatu lembaga maupun bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk memberikan ilmu dan menerima peserta didik secara berbayar maupun gratis. Sekolah juga terdiri dari beberapa kegiatan yang tentunya bertujuan untuk menciptakan interaksi sosial yang kreatif dan juga aktif. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan peserta didik.Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu dari hal tersebut adalah membangun budaya sekolah dengan baik. Budaya sekolah merupakan budaya organisasi dalam konteks persekolahan. budaya sekolah masih disamakan dengan “iklim atau etos”. Konsep budaya sekolah masuk ke dalam pendidikan itu pada dasarnya sebagai upaya untuk memberikan arah tentang efisiensi lingkungan pembelajaran. Lingkungan dalam hal ini dapat dibedakan dalam dua hal: (1) lingkungan yang sifatnya alami sesuai dengan budaya siswa dan guru; dan (2) lingkungan buatan yang dibuat oleh guru atau hasil interaksi antara guru dengan siswa.
Budaya sekolah adalah merupakan sekumpulan nilai yang mendekati tingkah laku, tradisi, kebijakan sehari-hari, dan simbol-simbol yang dipraktekan oleh kepala sekolah, guru, karyawan, siswa dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas karakter dan citra sekolah tersebut di masyarakat luar. Banyak hal yang dapat dilakukan bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan membangun budaya sekolah yang positif mampu mewujudkan suasana moral yang baik dengan suasana yang kondusif sehingga akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah itu sendiri. Dalam membangun budaya sekolah harus relevan dengan situasi dan kondisi yang ada. Unsur budaya ada yang bersifat positif maupun negatif dan juga ada yang netral, maka aspek budaya yang diterapkan harus cocok sehingga mampu mewujudkan visi dan misi sekolah melalui budaya sekolah yang baik.Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2002:12) mendefinisikan budaya sekolahn sebagai perilaku, nilai-nilai, sikap dan cara hidup warga sekolah. Pada hakikatnya, budaya sekolah merupakan pandangan hidup bersama dalam masyarakat yang dapat dilihat dari perilaku, sikap, cara berpikir maupun nilai yang terlihat baik secara kasat mata maupun abstrak maupun nilai yang terlihat baik secara kasat mata maupun abstrak. Sekolah merupakan institusi yang memegang peranan penting dalam proses pelestarian budaya dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Mutu sekolah dapat ditingkatkan melalui budaya sekolah. Hal tersebut dapat terjadi karena budaya sekolah yang baik mampu mengoptimalkan kinerja guru, kepala sekolah, karyawan, dan siswa sehingga hasilnya dapat optimal sesuai harapan. Budaya sekolah dapat memberi tuntunan kepada warga sekolah untuk bertindak sesuai dengan kapasitas dan peran masing-masing-masing unsur di sekolah.
PENGERTIAN BUDAYA SEKOLAH MENURUT PARA AHLI
1) Zamroni
Menurut Zamroni (2011:111) memberikan batasan bahwa budaya sekolah adalah pola nilai-nilai, prinsip-prinsip, tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, dikembangkan sekolah dalam jangka waktu yang lama dan menjadi pegangan yang diyakini oleh warga seluruh sekolah sehingga memunculkan sikap dan perilaku warga sekolah. Warga sekolah menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional terdiri dari peserta didik, pendidik, kepala sekolah, tenaga pendidik serta komite sekolah. Salah satu subyek yang diambil dalam penelitian budaya sekolah ini yaitu peserta didik (siswa).
2). Phillips
Phillips dalam kutipan Komariyah dan Triatna merumuskan budaya sekolah sebagai “Keyakinan, sikap, dan perilaku yang mencirikan suatu sekolah (Budaya sekolah adalah kepercayaan, sikap dan tingkah laku yang menjadi ciri khas suatu sekolah)”.
3). Deal dan Peterson
Deal dan Peterson mengartikan budaya sekolah sebagai “Pola mendalam dari nilai-nilai, kepercayaan dan tradisi yang telah terbentuk selama sejarah sekolah (budaya sekolah adalah pola yang mendalam dari nilai-nilai, kepercayaan dan tradisi yang telah terbentuk sepanjang sejarah sekolah)”.
4). Stop dan Smith
Budaya sekolah atau School Culture didefinisikan Stolp dan Smith sebagai “Pola makna yang ditransmisikan secara historis meliputi norma, nilai, kepercayaan, upacara, ritual, tradisi, dan mitos yang dipahami, mungkin dalam berbagai tingkat oleh anggota komunitas sekolah. Sistem makna ini sering membentuk apa yang orang pikirkan dan bagaimana mereka bertindak” (pola makna yang sepanjang perjalanan sekolah yang meliputi norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, upacara, ritual tradisi, dan pemahaman mitos, yang kemungkinan dalam berbagai tingkatan yang ditunjukkan oleh warga sekolah Sistem makna ini sering berupa hal-hal yang ditampilkan oleh warga sekolah dan bagaimana mereka bertindak atau bertingkah laku.
5). Aan Komariah dan Cepi Triatna
Budaya sekolah adalah “karakteristik khas sekolah yang dapat diidentifikasi melalui yang dianutnya, sikap yang dicatat, kebiasaan-kebiasaan yang ditampilkan, dan tindakan yang ditunjukkan oleh seluruh personel sekolah yang membentuk satu kesatuan khusus dari sistem sekolah.”
Dari beberapa pengertian di atas dapat dipastikan bahwa budaya sekolah merupakan organisasi yang membedakan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, bagaimana seluruh anggota organisasi berperan dalam melaksanakan kegiatan tersebut pada keyakinan, nilai dan norma yang dari budaya sekolah tersebut.Kata manajemen dari bahasa Inggris manage (to manage) yang artinya “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola” ( John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia).
Pakar menyatakan, “Manajemen Sekolah merupakan suatu bentuk upaya pemberdayaan sekolah dan lingkungannya untuk mewujudkan sekolah yang mandiri dan efektif melalui optimalisasi peran dan fungsi sekolah sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan bersama. Diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran, dengan mendayagunakan segala sumber yang ada dilingkungan sekolah.
Manajemen Sekolah adalah penataan sistem pendidikan yang memberikan keleluasaan penuh kepada kepala sekolah, atas kesiapan seluruh staf sekolah, untuk memanfaatkan semua sumber dan fasilitas belajar yang ada untuk menyelenggarakan pendidikan bagi siswa serta memiliki akuntabilitas atas segala tindakan tersebut”.
Manajemen sekolah dapat difinisikan sebagai suatu proses komunitas kerja sekolah dengan cara menerapkan penerapan-kaidah otonomi, akuntabilitas, partisipasi, dan keberlanjutan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara bermutu.Budaya sekolah adalah nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma, sikap, mitos dan kebiasan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang suatu sekolah, dimana sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai masalah yang muncul di sekolah. Dengan kata lain, kultur atau budaya sekolah dapat dikatakan sebagai pikiran, kata-kata, sikap, perbuatan, perilaku maupun simbol serta slogan khas identitas mereka.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa konsep budaya sekolah sebagai suatu pendekatan lebih pada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.
Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya:
- jaminan kualitas kerja yang lebih baik;
- membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal;
- lebih terbuka dan transparan;
- menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi;
- meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan;
- jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan
- dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK.
PENTINGNYA MEMBANGUN KULTUR SEKOLAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN.
Sistem persekolahan pada prinsipnya adalah membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah yang bersangkutan perbaikan mutu sekolah perlu memahami budaya sekolah sebagai modal dasar. Melalui pemahaman budaya sekolah, fungsi sekolahnya dapat dijangkau, aneka permasalahan dapat diketahui, dan pengalaman-pengalaman dapat direfleksikan. Setiap sekolah memiliki unik berdasarkan pola interaksi komponen sekolah secara internal dan eksternal.
Hasil penelitian mutakhir dibidang pendidikan yang dilakukan oleh The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) menunjukkan bahwa faktor penentu kualitas pendidikan bukan hanya yang faktor fisik saja, seperti keberadaan guru yang berkualitas, kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan, tetapi juga dalam wujud nonfisik, yakni berupa budaya sekolah (Zamroni, 2000:149). Budaya sekolah diharapkan dapat memperbaharui mutu sekolah, kinerja sekolah, serta mutu kehidupan yang bercirikan sehat, dinamik, aktif, positif dan profesional. Budaya yang kokoh dan kuat memberikan indikasi bahwa sekolah telah memasuki tingkat kehidupan, yaitu terpendam dalam asumsi dasar, termuat dalam nilai dan keyakinan, dan terpateri dalam tindakan.Budaya sekolah yang sehat dapat memberikan peluang adalah warga sekolah bekerja lebih optimal, totalitas, tidak setengah-setengah, bekerja lebih efisien, energik, bersemangat, dan terus berkembang. Oleh karena itu, budaya sekolah yang sehat harus terus-menerus pengembangan dan dari siswa ke siswa berikutnya, dari kelompok satu ke kelompok berikutnya. Budaya yang kokoh memiliki kekuatan untuk suatu perubahan (Tim Peneliti Pasca Sarjana UNY, 2003: 5).
Budaya sekolah milik bersama warga sekolah, budaya sekolah merupakan hasil perjalanan sejarah sekolah, serta produk dari interaksi berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Oleh karena itu, sekolah perlu menjaga secara sungguh-sungguh keberadaan aneka budaya sekolah dengan sifat yang ada, sehat atau tidak sehat, kuat atau lemah, positif ataupun apapun negatif, kacau maupun stabil. Hal tersebut perlu dilakukan yang arahnya bagi perbaikan sekolah sehingga tujuan yang ingin dicapai sekolah dapat terwujud.
Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah dimasa depan akan lebih sukses dalam membangun budaya sekolah (Zamroni, 2000: 148-152).
Zamroni mengemukakan pentingnya sebuah sekolah memiliki budaya atau budaya. Sekolah sebagai suatu organisasi harus memiliki: (1) kemampuan untuk hidup, tumbuh berkembang dan beradaptasi dengan berbagai lingkungan yang ada, dan (2) integrasi internal yang mendukung sekolah untuk menghasilkan individu atau kelompok yang memiliki sifat positif. Suatu organisasi termasuk sekolah harus memiliki pola asumsi-asumsi dasar yang dipegang bersama seluruh warga sekolah. Memperhatikan konsep diatas, maka dapat Kunci bahwa budaya sekolah merupakan pola-pola yang mendalam, kepercayaan nilai, dan tradisi yang terbentuk dari rangkaian, kebiasaan dan sejarah sekolah, serta cara pandang dalam memecahkan masalah-persoalan yang ada di sekolah.
Sehingga dapat dikemukakan bahwa budaya sekolah merupakan nilai-nilai penting yang diyakini dan dipercaya sebagai suatau sistem yang dibangun melalui waktu yang panjang, nilai-nilai dalam budaya sekolah tersebut menjadi pendorong kesadaran bagi warga sekolah sehingga tercipta sikap-sikap positif dan perilaku harmonisasi di lingkungan sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.JENIS-JENIS BUDAYA SEKOLAH
Budaya sekolah itu sendiri menurut Rahmani Abdi (Peterson, 2002) ada dua jenis, yaitu budaya “positif” dan budaya “negatif”. Rahmani Abdi menyatakan bahwa sekolah dengan budaya yang positif akan mendukung pengembangan profesional di antara guru, adanya rasa tanggung jawab terhadap pembelajaran siswa, dan adanya atmosfer yang positif dan peduli’ dan sebaliknya sekolah dengan budaya negatif, hubungan diantara guru sering terjadi konflik, para staf tidak percaya kemampuan siswa untuk mencapai kesuksesan, dan secara umum berlaku sikap negatif. Adapun karakteristik budaya sekolah yang positif dan yang negatif adalah sebagaimana menurut Cromwell (2005) pada Tabel 1 di bawah.
CONTOH BUDAYA SEKOLAH YANG POSITIF
Berikut beberapa contoh fenomena yang dikenal dan diyakini mencerminkan berbagai aspek budaya, yang masing-masing dalam dengan “kualitas, moralitas dan multi budaya”. Artefak terkait budaya positif.
- Ambisi untuk meraih prestasi, mempersembahkan penghargaan pada yang berprestasi.
- Hidup semangat sportifitas, jujur, mengakui keunggulan pihak lain.
- Saling menghargai perbedaan.
- Percaya (saling percaya)
MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU KUALITAS PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL. (BUDAYA BARU BUDAYA SEKOLAH BERBASIS DIGITAL)
Budaya sekolah diharapkan perbaiki mutu, kinerja sekolah, dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamik/aktif, positif, dan profesional. Budaya sekolah yang sehat memberikan peluang dan warga sekolah bekerja secara optimal, bekerja secara efisien, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.
Budaya sekolah bersifat dinamis, milik seluruh warga sekolah, merupakan hasil perjalanan sekolah, serta merupakan produk dari interaksi berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Di era digital ini tentu terjadi perubahan budaya yang ditimbulkan akibat perkembangan dunia digital. Pembelajaran e-learning diterapkan, yang awalnya sebagai antisipasi kegiatan pembelajaran di masa pandemi kini menjadi kebutuhan yang seolah-olah tidak lepas di dunia pendidikan. Adanya e-rapor, melalui Rapor Pendidikan ini satuan pendidikan dimudahkan memiliki data hasil evaluasi. Kemudian karena terintegrasi, jadi semua aktivitas satuan pendidikan dapat digunakan secara komprehensif, sehingga diharapkan pendidikan di sekolah dasar terencana dengan baik menggunakan data dasar.
Teknologi merupakan konsekuensi logis perkembangan zaman, maka kitapun harus mengikutinya, atau tergilas. Kemajuan teknologi membawa perkembangan dalam dunia pendidikan, dan untuk mewujudkan sekolah unggul maka teknologi merupakan prinsip yang harus dikuasai dan dikuasai. Kemajuan teknologi dan pemanfaatan yang tepat akan sangat memuluskan jalan bagi sekolah Kita untuk menjadi sekolah yang unggul.
Sekarang ini kita suka tidak suka memasuki era digitalisasi dan ini juga harus direspon positif oleh lembaga pendidikan, maka kemudian yang harus kita lakukan adalah menciptakan kultur budaya sekolah yang mengikuti penggunaan digitalisasi ini dengan tetap sasaran. Dan ketika kita kaitkan dengan lembaga pendidikan di era digital, maka kita harus pahami terlebih dahulu apa itu digital. Digital berasal dari bahasa Yunani yaitu digitus yang berarti jari-jemari, biasanya mengacu pada sesuatu yang menggunakan angka yaitu 0 (nol) dan 1 (satu) yang disebut bilangan biner. Seiring perkembangan era digital ungkapan “Mulutmu harimaumu” seolah menjadi tergantikan dengan ungkapan “Jari-jemarimu harimaumu”, maka berhati-hatilah kita untuk buat status di media sosial yang berawal dari jari-jemari kita yang bisa menimbulkan pertengkaran, bisa menimbulkan pembunuhan dan bahkan peperangan gara-gara jari-jemari.
Kemudian perkembangan teknologi yang hadir dengan sistem digital telah memicu pengembangan garis komunikasi baru, informasi, teknik manipulasi dan komunikasi yang sudah ada sebelumnya, saluran dan perangkat juga telah terpengaruh ini adalah salah satu kekuatan pendorong revolusi komunikasi. Apa kaitannya era digital dan globalisasi. Era digital bisa juga disebut dengan globalisasi, Anthony giddens menyebut ini dengan Runaway world yaitu dunia yang berlarian tunggang-langgang seperti truk besar yang sarat dengan muatan tapi larinya dengan cepat tanpa kendali tanpa rem. Lalu apa yang menjadi kendalinya? kendalinya tidak lain dan tidak bukan adalah moral dan agama. Profesor azyumardi Azra menyampaikan bahwa era teknologi digital globalisasi sekarang ini tidak bisa bebas begitu saja tetapi harus dikawal dengan nilai agama. Globalisasi kalau tidak kemudian kita dapat kendalikan maka kita akan digilas oleh era globalisasi tadi.
Pendidikan pun tak lepas dari penggunaan media digital. Pendidikan digital merupakan konsep cara memberikan pelajaran kepada peserta didik dengan menggunakan media multimedia antara lain dengan menggunakan bantuan komputer notebook, smartphone, video, audio dan visual dimana pembelajaran dapat terjadi kapan pun dan dimana pun. Pendidikan berbasis digital ini adalah pendidikan yang menggunakan media elektronik sebagai alat bantu untuk meningkatkan mutu pembelajarannya. Alat bantu ini adalah produk dari teknologi informasi dan komunikasi yang sering disebut dengan TIK. Dari TIK lahirlah teknologi untuk pendidikan yang dapat dikembangkan menjadi jaringan internet. Sekolah dapat menyusun sistem informasi pendidikan dengan mudah dan praktis melalui program komputer berbasis internet. Dengan demikian sekolah dapat menerapkan aplikasi internet dengan sasaran peningkatan layanan prima pendidikan terutama dari sisi waktu dan efektivitas. Sebagai contoh yaitu pembayaran sekarang tidak harus datang ke sekolah tapi orang tua siswa dapat menggunakan e-banking atau bisa juga membayar melalui warung-warung, Indomaret, Alfamart, dll.
Pemanfaatan internet ini sekaligus juga bisa dibangun pada sekolah yang menerapkan school-based management MBS terutama dalam implementasi pembelajaran, manajemen kelas mendukung Monitoring, evaluasi, pelaporan, kebijakan strategis, perencanaan, penganggaran dan kerjasama dengan pihak lain. Jadi sekolah yang menerapkan school-based management juga bisa membangun kesepakatan dengan warga sekolah untuk membawa sekolah ini ke arah mana sesuai dengan visi dan misi yang dibangun bersama itu disepakati bersama.
Tidak dipungkiri, era digital juga memiliki sisi negatif dimana salah satunya adalah melahirkan generasi digital yang misalnya di era digital ini banyak terjadi perilaku kekerasan yang kerap terjadi pada remaja dari perilaku verbal sampai tindakan fisik, dari kata-kata atau dari tindakan bullying sampai kemudian ke tindakan fisik kekerasan. Sungguhpun di era teknologi yang sangat maju seperti sekarang, tentu kita sepakat mengatakan guru tidak akan tergantikan oleh teknologi yang maju sekalipun. Oleh karena itu tentu yang harus dilakukan adalah guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat bekerja di dalam mengembangkan kultur pendidikan yang menumbuhkan kepribadian peserta didik. Jangan sampai guru tidak melek teknologi, karena di era digital memang banyak tantangan-tantangan yang terjadi di dunia iptek yang bergerak dan berubah begitu cepat perkembangannya tidak linear.
Memasuki abad 21 dibutuhkan guru yang competent dan profesional serta terampil. Sebab memasuki abad 21 yang ditandai dengan pembelajaran berbasis TIK dengan pendekatan 4C yaitu : critical thinking, collaboration, creativity and communication dan jangan terjadi guru-guru penyakit TBC yaitu tidak bisa komputer ini bisa berbahaya. Kualitas guru yang hampa akan teknologi tidak akan mampu menanamkan daya kritis kepada murid untuk menjadi manusia revolusioner, sehingga mereka terhambat untuk menggali potensi dirinya. Guru yang gaptek (Gagap Teknologi) pun akan menurunkan derajat kredibilitasnya di hadapan para muridnya, sehingga murid-murid cenderung bersikap under estimate seolah-olah guru adalah orang “bodoh”. Di tengah dunia Metropolitan jangan sampai hal tersebut terjadi. Harus kita lakukan budaya sekolah, budaya lembaga menghadapi era digital.
Pembahasan tersebut di atas merupakan bentuk budaya baru hasil dari pembiasaan di era digital. Hal tersebut tentuh merambah dan mempengaruhi budaya sekolah menjadi budaya sekolah yang lebih baru mengikuti perkembangan zaman. Sesuai dengan manfaatnya dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Tidak dipungkiri juga bahwa budaya baru tersebut membentuk suatu budaya yang positiv dan negatif. Meningkatkan kemampuan kompetensi guru yang melek teknologi merupakan langkah yang harus ditempuh. Guru saat ini sedang menghadapai generasi abad 21 yang tentu beda dalam asupan gizi dengan keilmuan teknologinya. Lihat saja anak-anak kecil sekarang sangat cerdas saat pandai dalam pengoperasian smartphone. Dengan guru yang melek teknologi, maka akan berpengaruh bada budaya sekolah yang mengikuti perkembangan zaman, menjadi sekolah yang prima dalam pelayanan dan tentu saja makin meningkatnya mutu pendidikan.REFERENSI :
- Aan Komariah dan Cepi Triatna, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 101.
- Anderson, R. (1976). The Cultural Context. Minnesota: Burgess Publishing Company.
- Depdiknas, (2011). Pendidikan untuk Bangsa. Jakarta: Depdiknas.
- Didik Prangbakat, Meningkatkan Mutu Pengelolaan Sekolah Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management), (Jakarta: Dirjen Dikdasmen, 2001), h.3
- Suharsini Arikunto, Manajemen Berbasis Sekolah: Bentuk Inovasi Mutakhir Dalam Penyelenggaraan Sekolah”, dalam: Jurnal Dinamika Pendidikan, Majalah Ilmu Pendidikan, No. I Tahun VI/1999, Februari, h.12
- Zamroni. Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural. Gavin Kalam Utama. Yogyakarta: 2011.
- https://ekonominator.blogspot.com/





Sangat bermanfaat.. terimakasih artikel...
BalasHapus